Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 01 Mei 2010

budaya karo

Mejuah-juah,
Selamat untuk karya tulisandu Joey,
Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan kita sebagai masyarakat Karo hususnya
dan sebagai Bangsa Indonesia umumnya dalam hal seperti tulisandu ini (Pembebasan Budaya Karo)
,dan ini juga adalah sebagai wujud keperdulian sebagai masyarakat Karo dan ke Karoan kita.
Maju terus dalam berkarya untuk generasi muda Karo
Maju terus Tanah Karo Simalem
Bujur ras mejuah-juah kita kerina
Gbu
rlp
> Tulisan ini didekasikan pada orang yang menganggap Karo adalah
Batak Karo.
> A. PERADABAN KARO Peradaban sama dengan bahasa Inggris yang
disebut civilization. Maka untuk merumuskan istilah peradaban, kita
meminjam pengertian yang sudah berkembang dalam ilmu pengetahuan
mengenai civilization.
> Menurut Encyclopedia American, pengertian civilization telah
berkembang sesuai dengan perkembangan sifat manusia dan pengendalian
diri. Dalam abad ke 20 konsep ilmu antropologi tentang kebudayaan,
yaitu jumlah keseluruhan perilaku manusia sebagai hasil pelajaran
(learned behavior, yang berbeda dari instinctive behavior) yang
memperkuat pertumbuhan manusia dalam penguasaan pengetahuan dan
kecakapan yang mendorongnya untuk mencapai prilaku yang lebih luhur.
> Secara lain kita dapat menyimpulkan suku Karo sebagai salah satu
etnik lahir dari penyatuan perilaku manusia yang bertumbuh sesuai
dengan perkembangan pengetahuan dalam bertingkah laku untuk mencapai
keluhuran peradaban.
> Leonardo Da Vinci, seniman dan manusia renaisans Eropa, adalah
contoh utama, betapa di zaman itu kesenimanan dan keilmuan, serta
keahlian teknologi dapat menyatu dalam diri seorang anak manusia,
jika potensi rasa (pengamatan empiris, intuisi, imajinasi,
kreativitas) dengan daya pikir (pengamatan empiris, analisis,
mengembangkan teori) tidak tersendat dan terkukung seperti yang
cukup lama terjadi pada manusia Indonesia (Baca : manusia Karo)
sejak masa penjajahan, Orde Lama, Orde Baru hingga Reformasi yang
justru menjerumuskan kebudayaan ke titik keprihatinan. Leonardo Da
Vinci beruntung hidup di zaman renaisans Eropa yang membuka
lingkungan baru bagi berkembangnya kreativitas manusia di zaman itu
di Eropa termasuk peradabannya.
> Seorang penulis bernama Dan Brown yang telah kaya dengan
imajinasi Da Vinci Codenya justru telah salah mengejawantahkan
maksud-maksud dari kemurnian karya seni Da Vinci itu sendiri. Dan
Brown tidak menyadari dengan imajinasi kolektifnya tentang karya
seni Leonardo Da Vinci telah menyeretnya pada pemahaman yang salah
tentang makna Opus Dei dan Holy Grail. Problematika yang diangkat
seolah menghantam peradaban yang telah berlangsung berabad-abad. Hal
ini membuat kita harus mengkaji lagi perspektif sejauh mana
keberadaan karya Da Vinci dan pengaruhnya dengan perkembangan
kebudayaan dan perdababan. Adakah kebohongan dibalik semuanya.
> Leonardo Da Vinci seolah mengingatkan kita kembali untuk
menggali lagi kebenaran akan akar dari peradaban kita. Kebudayaan
Karo diungkit-ungkit kembali hubungannya dengan kebudayaan Batak
(Baca : Toba). Adakah kebenaran dibalik pengkaitan dua etnik yang
secara peradaban berbeda itu?
>
> B. CIKAL BAKAL KARO
> Dibanding dengan propinsi lain di Indonesia, Sumatera Utara
memang unik. Disana ada tujuh suku berdiam berdasarkan
pengelompokkan geografis dan etnis, Toba, Karo, Simalungun, Pakpak,
Mandailing, Melayu dan Nias. Lalu kemudian ditambah lagi dengan
sebuah suku yang secara resmi tidak ada pengakuan keaslian yaitu
Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera).
> Tapi mengapa dengan mudah saja kita mengatakan kalau 5 suku
pertama yang tersebut diatas tergabung dalam satu nama yaitu Batak.
Tapi kenapa tidak ada Batak Melayu atau Batak Nias yang secara
geografis masih satu daerah.
> Di dalam buku Leluhur, marga-marga Batak dalam Sejarah, Silsilah
dan Legenda, Drs. Richard Sinaga menulis bahwa semua etnis Batak
berasal dari keturunan Raja Batak yang merupakan cikal bakal suku
Batak yang akhirnya berkembang menjadi etnis Toba, Karo, Mandailing,
Simalungun, Pakpak dan Mandailing, bahkan etnis Nias juga disebutkan
punya keterkaitan dengan Batak. Untuk suku Karo, beliau menulis
konon dua anak laki-laki Raja Isumbaon yaitu Raja Asi-asi dan
Sangkar Somalindang pergi merantau ke Dairi lalu ke Tanah Karo.
Mereka itulah generasi Nini Karo yang merupakan cikal bakal suku
Karo.
> Kesimpulan yang diambil Richard Sinaga justru telah bertentangan
dengan konsep ilmu Antropologi tentang peradaban kebudayaan yang
disebutkan diatas. Nyaris semua ahli sejarah Karo akan cepat
menyangkal apa yang dikatakan Sinaga.
> Rita Smith Kipp menulis, julukan Batak dibuat oleh kolonial
Belanda untuk membedakan antara mereka yang belum beragama (epithet
in origin) dengan suku Melayu yang telah menjadi Muslim. Tetapi
menurut orang Melayu julukan Batak ini justru negatif yaitu orang
yang masih terbelakang (primitif) yang makan anjing dan babi. Hal
ini mungkin saja adanya pengaruh pola politik pecah belah (devide et
impera) dari kolonial untuk membedakan etnis dengan tujuan tertentu
yang berkaitan dengan imperialisme.
> Menurut Budayawan Karo Darwan Prinst, di dalam legenda suku Karo
dikatakan bahwa sebuah kerajaan besar bernama Haru pernah berdiri di
Sumatera. Kerajaan Haru inilah yang menjadi cikal bakal suku Karo.
> Tengku Lukman Sinar seorang sejarahwan Sumatera Utara dalam
makalahnya pada Kongres Kebudayaan Karo 1995 di Brastagi menampilkan
bukti-bukti bahwa Deli Tua adalah ibukota Kerajaan Haru. Adapun
bukti-bukti itu ialah Hikayat Aceh, W. Marsden Histrory of Sumatra,
Tabal Mahkota Asahan, Negara Kertagama, John Anderson,
Bustanussalatin, Peta Kuno dan Wan Sulong Bahar Barus. Kesimpulan
makalah Tengku Lukman Sinar itu menunjukkan cikal bakal suku Karo
dari eksistensi kerajaan Haru.
> Belum lagi pengaruh-pengaruh imigran India (Hindu) yang datang.
Beberapa bukti kebudayaan Karo dalam pengaruh Hindu adalah nama
Sembiring Singombak yang banyak berasal dari klan India contohnya
Brahmana, Colia, Depari, Meliala dan sebagainya. Upacara agama
pemena dan kepercayan filosofi agama sangat berhubungan dengan
Hindu. Seperti Kerja Mbelin Paka Waluh dan Erkiker.
> Beberapa sub Merga diakui datang dari beberapa daerah seperti
Dairi, Toba, Simalungun. Hal ini terlihat dari adanya kemiripan
merga. Tapi pendatang beradaptasi dengan peradaban yang sudah ada.
Bukan malah mempengaruhi peradaban dan menjadi ispirator peradaban
itu.
> Jadi darimanakah datangnya Karo itu? Berbagai versi telah muncul
seperti layaknya versi diatas. Seorang Antropolog Karo pernah
mengatakan pada saya, seratus tahun lagi mungkin ada ahli sejarah
Karo yang mengatakan kalau suku Karo berasal dari Amerika. Karena
nama saya Joey Bangun sesuai ejaan Amerika. Teoritis antropologi
yang sempurna.
> Jadi penyimpulan terhadap suatu etnis (baca : Peradaban Karo)
ini tidak bisa terburu-buru ataupun dengan sederhana tanpa menggali
lebih lagi. Suatu kesimpulan-kesimpulan kerdil yang muncul akan
mengguratkan perbedaan-perbedaan tentang asal muasal. Justru hal ini
akan menjadi penghalang bagi kita untuk mengembangkan kebudayaan
yang telah mengantar kita pada titik peradaban saat ini.
>
> C. EKSISTENSI KARO
> Pernahkah ada yang menyadari sebelum pendudukan kolonialiasme di
tahun 1866 di Sumatera Timur tidak ada yang menyebut Karo sebagai
Batak Karo?
> Saya menyimpulkan apa yang dikatakan Rita Smith Kipp dalam
bukunya The Early Years of A Dutch Colonial Mission The Karo Field
adalah benar. Penamaan Batak pada Karo adalah istilah untuk
menyatukan suku-suku yang belum beragama ketika itu selain Melayu
(Islam).
> Mulailah terlihat eksistensi penamaan Batak Karo pada masyarakat
Karo. Penegasan itu semakin terlihat ketika Gereja Batak Karo
Protestan (GBKP) sebagai komunitas masyarakat Karo terbesar tetap
eksis memakai nama itu tersebut hingga kini. Padahal nama itu
merupakan warisan Belanda yang seharusnya sudah ditanggalkan sejak
dulu.
> Budayawan Karo seperti Masri Singarimbun, Henry Guntur Tarigan
bahkan sampai Roberto Bangun pernah mempersoalkan ini pada Moderamen
GBKP. Tapi nama GBKP sepertinya sudah merakyat dan kalau diganti
menjadi GKP (Gereja Karo Protestan) sudah ada pula yang memakainya
yaitu Gereja Kristen Pasundan (GKP).
> Jadi tidak ada kata mufakat untuk itu. Biarlah Gereja Batak Karo
Protestan (GBKP) hanya sekedar nama yang lama yang sudah merakyat
tapi sama sekali tidak mencampuradukkan keterkaitan Batak dalam
eksistensi masyarakat Karo pada GBKP. Dan hampir semua jemaat GBKP
mengakui hal ini.
> Tanah Karo yang subur itu telah menyeret masyarakatnya pada pola
kolegalitas. Superior etnik pun secara tidak langsung muncul.
Contohnya, di masa dulu sekitar tahun 1960an ke bawah masih ada
sebutan, "Lit Tebandu?". Suatu sebutan untuk orang Batak (baca :
Toba) sebagai aron yang menunggui ladang. Hal ini menyiratkan saat
itu Karo adalah tuan tanah sedangkan orang Toba adalah pekerja tanah
yang digaji. Kita bisa bayangkan perekonomian Karo dibanding Toba
ketika itu. Saat ini era diatas 1960an muncul lagi istilah, "Lit
Jawandu?". Sebutan ini kembali lahir untuk menunjukkan orang Jawa
sebagai pekerja yang mengolah tanah orang Karo. Hal ini pula yang
secara tidak langsung disebut Superior Etnik.
> Selama 7 tahun saya tinggal di tanah orang Sunda. Pola hidup
masyarakat Sunda hampir sama dengan masyarakat Karo. Hidup di tanah
yang subur, bercuaca dingin, kreatifitas tinggi dan pola kekerabatan
yang kental pada kolegalitas. Seperti orang Karo, orang Sunda tidak
mau dikatakan orang Jawa padahal sebetulnya tinggal di pulau Jawa.
Malah mereka menganggap remeh orang Jawa. Terlihat dari pandangan
mereka bagi kaum pendatang yang datang ke tanah mereka. Mereka akan
mengukung diri pada kolegalitas.
> Tapi apakah kolegalitas bersifat positif? Dalam mengkaji pola
kekerabatan etnik hal ini tentu mempererat dan menjaga pola tradisi
sosialisasi etnik tersebut secara turun temurun.
> Sedang sisi negatifnya justru hal ini mengukung kita dalam
menerima perkembangan dari luar. Bahkan hal ini menuntun kita pada
pola percaya tidak percaya. Yakni mempercayai sesuatu jika sudah
melihat terlebih dahulu. Akhirnya memendam kita pada kepercayaan
diri untuk berkembang. Tidak apa, hal ini memang membuat kita tidak
berkembang secara kelompok. Tapi malah kita sudah lahir dengan jiwa
single fighter. Jiwa kepribadian orang Karo ini yang membuat dia
merantau kemana saja akan berhasil.
> Kembali ke persoalan Batak. Di masa modern ini kita masih
terkukung dengan warisan kolonialisme yang membutakan kita pada
peradaban tempo dulu. Sebagai contoh orang Karo merasa mereka masih
menyimpan kemurnian budayanya. Berbeda dengan Simalungun atau Pak-
pak yang budayanya terintimidasi dengan budaya Toba. Sehingga kadang
mereka tidak menolak kalau dikatakan Batak. Bahkan katakanlah
Mandailing, mereka sudah bersatu dengan etnis yang disebut Tapanuli.
> Jadi kekecewaan masyarakat Karo bisa dikatakan sudah memuncak.
Apa sebab? Imbasnya pada kata Batak ini. Misalnya saja, jika ada
orang Batak bikin ulah maka secara langsung Karo akan kena getahnya.
Karena sudah ada kesimpulan Karo merupakan bagian dari Batak. Malah
jika ada orang Karo yang berhasil di bidangnya, orang Batak
memonopoli kalau hal ini adalah keberhasilan Batak. Hal ini sangat
merugikan Karo. Sehingga jika ada orang Batak yang berhasil di
bidangnya, orang Karo tidak terlalu bangga dan malah adem ayem saja.
Toh itukan Batak bukan Karo. Akhirnya orang Indonesia dengan mudah
mengatakan kalau Sumatera Utara adalah orang Batak.
> Monopoli Batak ini terlihat di harian Waspada yang suatu hari
yang mengatakan kalau Guru Patimpus Sembiring Pelawi pendiri kota
Medan adalah keturunan Raja Batak. Penulisnya dengan mudah mencoreng-
moreng silsilah tanpa mengikutkan orang Karo sebagai penyimpulnya.
Jangan-jangan Pa Garamata (Kiras Bangun), pahlawan nasional dari
Karo nantinya akan dikatakan dari Batak.
> Saya jadi teringat kuan-kuanen Batak sama dengan Inggris. Negara
Superior yang menganggap dirinya lebih unggul dibanding negara mana
saja. Sehingga adanya pemaksaan bahasa Inggris menjadi bahasa
Internasional. Bahkan Skotlandia, Wales, Irlandia, negara sekitarnya
dipaksa untuk bersatu dalam nama Great Britain. Belum lagi mereka
menganggap negara-negara pesemakmuran merupakan bagian dari mereka.
> Monopoli kata Batak ini telah melahirkan suku Karo pada
dilematisasi. Malah generasi muda Karo yang sudah sampai titik jenuh
diombang-ambing lalu dengan mudah menarik kesimpulan begitu saja
tanpa mengerti arti sejarah dan peradaban itu sendiri.
> Hal inilah perlu adanya pembebasan budaya Karo pada titik dimana
pengakuan jati diri sebagai Karo. Karo adalah Karo. Batak adalah
Batak. Peradaban sudah berbeda. Biarlah kebudayaan Karo bebas
mengembangkan citra dirinya dalam tahap yang lebih berarti lagi,
> Kesemrautan kebudayaan ini telah membuat kita pada perdebatan
yang tidak berujung. Walau saya sudah masuk ke dalam kesemrautan
ini, kiranya tulisan ini bisa meluruskan pola pikir kita semua
sebagai generasi muda Karo.
> Kalau hal ini semua dapat kita lakukan dengan sebaik mungkin,
dengan berkat Tuhan Yang Maha Esa kita dapat menyaksikan hadirnya
peradaban Karo diantara peradaban lain. Bukan lagi peradaban Batak.
> Pembebasan budaya Karo ini telah mengantar kita pulang pada
kemurnian peradaban kita yaitu peradaban Karo.

5 komentar:

  1. fontnya tolong diperbesar yaa.. agak susah bacanya , bujur :))

    BalasHapus
  2. Saya suka blog anda. PEMBEBASAN BUDAYA K A R O bahwa K A R O BUKAN BATAK.

    Tapi nama GBKP harus diganti walau pun sudah merakyat. Sekali keputusan moderamen ganti nama dan keputusan itu di-fatwa-kan seluruh GBKP Indonesia, saya yakin namanya pasti berganti.

    Masalahnya, apakah moderamen mau mengganti nama GBKP ?
    Kalau tidak,... ? Nama GBKP jadi pengumuman TETAP bahwa KARO adalah batak.

    Apa pun kita bicarakan disini, kalau hanya sebatas bicara, 1000 tahun lagi pun orang karo tetap dianggap batak. Jadi kita harus bergerak ! Tandanya kita sudah mulai bergerak dan serius membebaskan budaya KARO, nama GBKP terlebih dahulu harus diganti.

    Dan semangat kita orang karo tentang PEMBEBASAN BUDAYA KARO ini , jangan TIMBUL TENGGELAM. KARO adalah KARO. KARO BUKAN BATAK.

    BalasHapus
  3. SAYA BANGGA MENJADI ORANG KARO. tapi SAYA TIDAK RELA DISEBUT BATAK. Jika anda serupa dengan saya, SAYA IKUT BARISAN ANDA.

    BalasHapus
  4. Anda membuat posting ini, pertengahan tahun 2010. Sekarang pertengahan 2016. Apa yang sudah berubah tentang anggapan orang bahwa KARO adalah batak ? Tidak ada kan ? Begitu nanti seterusnya, s e t e r u s n y a kalau kita tidak kompak kerja sama untuk PEMBEBASAN BUDAYA KARO.

    BalasHapus
  5. Anda membuat posting ini, pertengahan tahun 2010. Sekarang pertengahan 2016. Apa yang sudah berubah tentang anggapan orang bahwa KARO adalah batak ? Tidak ada kan ? Begitu nanti seterusnya, s e t e r u s n y a kalau kita tidak kompak kerja sama untuk PEMBEBASAN BUDAYA KARO.

    BalasHapus